Ribuan Orang Desak Beasiswa Australia untuk Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Dicabut

Ribuan Orang Desak Beasiswa Australia untuk Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Dicabut
Ribuan Orang Desak Beasiswa Australia untuk Terduga Pelaku Pelecehan Seksual Dicabut

Satu lagi kasus pelecehan seksual yang sedang mendapat sorotan publik. Kali ini, kabarnya korban mencapai puluhan perempuan.

Ibrahim Malik, penerima beasiswa Australia Awards Indonesia (AAI) tahun 2018 dan saat ini tengah menempuh S2 di University of Melbourne, diduga melakukan pelecehan seksual. Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta menerima menerima sedikitnya 30 aduan korban dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Ibrahim Malik.

Komunitas Peduli Perempuan memulai petisi daring di Change.org agar AAI mencabut beasiswa Ibrahim Malik. Sejak dirilis 4 hari yang lalu, petisinya sudah didukung lebih dari 8 ribu tanda tangan per tanggal 11 Mei 2020.

Dalam petisi, Komunitas Peduli Perempuan menjelaskan Ibrahim Malik dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, penerima Youth SouthEast Asian Leaders Initiative (YSEALI), aktif dalam pengajian, dikenal sebagai motivator dan mempunyai citra keagamaan yang baik. Karena pencitraan Ibrahim Malik sebagai mahasiswa berprestasi sempat membuat korban ragu-ragu melapor.

“Para korban di Yogyakarta rata-rata adalah juniornya di kampus dan selama ini diam karena malu, stress, atau takut tak tak dipercaya mengingat begitu idealnya sosok pelaku. Tapi kini satu persatu korban bermunculan dan berani bersuara,” kata Illian Deta Arta Sari yang tergabung dalam Komunitas Peduli Perempuan.

Illian menjelaskan berbagai modus pelecehan seksual yang dilakukan terduga pelaku di antaranya percakapan berbau seks, video sex, kekerasan fisik, verbal, pelecehan seksual langsung tanpa intercourse, juga percobaan perkosaan hingga ejakulasi di luar.

Komunitas Peduli Perempuan juga menyoroti soal hukum di Indonesia yang masih sulit memberi keadilan pada para korban pelecehan dan perkosaan karena terkendala di soal pembuktian.

“Kalau 1 korban, seringkali orang masih susah percaya dan menuding korban. Bagaimana dengan 30 korban? Masih ada yang bilang 30 perempuan muda ini serentak mengada-ada?” kata Retno.

Komunitas Peduli Perempuan menganggap tindakan pelecehan seksual terduga pelaku sangat tidak sejalan dengan standar pencegahan eksploitasi, pelecehan dan kekerasan seksual yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

“Dalam kontrak pemberi serta penerima beasiswa pada pasal 11.1 huruf f disebutkan bahwa Australia Awards berhak melakukan penghentian beasiswa apabila penerima beasiswa melakukan tindakan yang melampaui batas yang dapat diterima di Australia. Karena itu, kami meminta AAS menerapkan zero tolerance pada pelaku pelecehan seksual dengan mencabut beasiswa pelaku,” tandas Illian.

Dalam wawancara dengan ABC (9/05/2020), Ibrahim Malik membantah semua dugaan atas tindakannya di Indonesia dan Australia, dan mengatakan bahwa tuduhan pelecehan seksual ini telah merusak reputasinya.

Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai kampus almamater Ibrahim sudah membentuk tim pemeriksa yang bertemu dengan korban dan penyintas. Atas dugaan tersebut UII sedang dalam proses untuk mencabut geras mahasiswa berprestasi Ibrahim Malik.

Sementara di University of Melbourne, setidaknya da 100 orang terdiri dari mahasiswa, staf pengajar dan alumni University of Melbourne mendukung universitas menindak tegas pelaku. Mereka mengirim surat ke University of Melbourne untuk melakukan investigasi. Menanggapi surat tersebut kini pihak kampus membentuk posko aduan dan setidaknya sudah ada dua aduan yang diduga menjadi korban kekerasan seksual terduga pelaku.

Copyright 2017 FRESHFACE ©  All Rights Reserved